ss_blog_claim=6853e64dae9fcd8425790b711998bf08

Amazing Fire Illusion

Waspadai Biaya Operasi Usus Buntu di Rumah Sakit  

Rabu, 26 Maret 2008

Pada hari Sabtu, 16 Februari 2008 tengah malam hingga Minggu dini hari, suami saya menjalani operasi usus buntu di Rumah Sakit Internasional Bintaro atau RSIB, Tangerang. Sebelum operasi, petugas di bagian keuangan mengatakan biaya operasi sekitar Rp. 6 juta dan diharuskan membayar minimum 75%.
Kemudian saya membayar Rp. 5 juta. Hari Senin (18/2) siang petugas bagian keuangan memberikan tagihan sementara lengkap dengan perincian, total tagihan Rp. 17,381,791.95 Total tagihan itu dalam waktu kurang dari 48 jam ada kenaikan Rp. 11 juta lebih. Salah satu rincian tagihan menyebutkan biaya pemakaian alat medis LMA ProSeal (Reusable) sebesar Rp. 6,220,500.-
Ketika ditanyakan kepada salah satu petugas di bagian pembayaran rawat inap lantai dua, dia tidak bisa menjelaskan. "Itu laporan dari ruang operasi dan kami hanya menerima laporan saja" Saya minta untuk dicek lagi dan dijanjikan ada penjelasan sore harinya. Ketika saya kembali, petugas itu langsung memberikan lembar tagihan baru yang nilainya sudah berubah. Angka Rp. 6,220,500.- sudah berubah menjadi Rp. 155,512.- Menurut dia terjadi koreksi dariruang operasi bahwa biaya Rp. 6 juta itu untuk pemakaian 100% sementara yang digunakan pasien hanya 0.025%
Saya cek di Internet, LMA adalah laryngeal mask airway, sejenis alat bantu pernafasan untuk pasien yang dioperasi dan alat ini bisa digunakan beberapa kali, bukan alat sekali pakai lalu dibuang. Meski belum puas dengan penjelasan petugas tersebut, paling tidak saya lega dengan perubahan nilai uang yang cukup signifikan.
Permasalahan lain, mengapa begitu banyak obat yang diberikan untuk pasien? Paling tidak ada 24 nama obat yang sebagian besar diberikan lewat infus ke dalam tubuhnya selama 4 hari di rumah sakit. Kecuali satu jenis obat, semua obat-obatan itu dalaha obat paten yang harganya relatif mahal, seperti obat anti biotik sekali suntik harganya Rp. 205,000.- dan suami saya mendapatkan 6 kali suntikan. Hanya satu obat generik, yaitu Vit K-3, yang harganya Rp. 2,317.- per suntik, dan hanya diberi satu kali suntikan. Setelah saya tanyakan pada suster, ternyata banyak obat yang namanya saja beda, tetapi sebetulnya jenisnya sama, yaitu antibiotik dan pengurang rasa nyeri.
Mudah-mudahn ke depan RSIB lebih cermat dan tidak mengejar keuntungan semata.

Fairuz Husaini
Jl. Nuri D3, Ciputat, Tangerang
(Sumber: Kompas, Rabu 28 Maret 2008)

AddThis Social Bookmark Button
Comments

Email this post


KPR Mandiri Tidak Profesional  

Saya mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan dengan Bank Mandiri Cabang Sukabumi Sudirman, Jawa Barat. Tertarik dengan kemudahan yang ditawarkan iklan Take Over KPR Bank Mandiri yang dimuat di media cetak dan elektronik, akhirnya saya mengajukan aplikasi sesuai dengan persyaratan yang tercantum. Namun kenyataannya syarat yang harus dipenuhi begitu banyak dan dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit serta waktu yang terbuang percuma.
Akhirnya semua persyaratan dapat saya penuhi akhir September 2007. Saya hanya tinggal menunggu prosessurvei rumah yang akan dilakukan oleh Tim Surveyor Bank Mandiri.
Saat menunggu proses survei ini pihak Bank Mandiri sangat tidak profesional, saya harus menunggu hingga 5 bulan, padahal dijanjikan hanya sekitar 1 bulan setelah aplikasi lengkap dan akan disurvei.
Sehubungan rumah saya sedang dikontrakkan, Bank Mandiri berjanji akan memberikan konfirmasi waktu survei seminggu atau sehari sebelum pelaksanaan sehingga saya bisa minta ijin kepada pengontrak rumah untuk pengambilan foto dalam rumah. Namun tanpa konfirmasi pada 17 Desember 2007 pukul 11:00 tiba-tiba saya ditelepon Tim Survei (Ibu Cristine) sudah berada di lokasi rumah dan terus terang saya terkejut karena yang mengontrak rumah saya pasangan muda yang keduanya bekerja, sehingga rumah dalam keadaan terkunci.
Akhirnya disepakati, saya harus mengirim foto-foto dalam rumah via e-mail.
Tepatnya sebulan kemudian tanggal 14 Januari 2008 saya ditelepon saudari Roro bahwa permohonan saya ditolak dengan alasan saat survei, tim tidak dapat masuk ke rumah. Saya merasa kecewa dengan palayanan yang buruk dan tidak profesional dari Bank Mandiri. Penantian panjang yang harus saya lalui akhirnya, karena kesalahan Bank Mandiri tidak menepati janjinya untuk memberikan konfirmasi waktu survei, permohonan saya ditolak.

Dadang Supratman
Kampung Babakan Rt 009 Rw 003, Parungkuda, Sukabumi
(Sumber: Kompas, Rabu 26 Maret 2008)

AddThis Social Bookmark Button
Comments

Email this post


Pelayanan Summarecon Serpong  

Pada 8 Desember 2007 saya memberikan uang tanda jadi (booking fee) sebesar Rp. 10 juta atas pembelian sebuah rumah di Summarecon Serpong, Tangerang, untuk cluster Topaz Barat. Pembelian melalui agen Warehouse Property (Bapak Iskandar). Berdasarkan surat pemesanan yang menjadi bukti dinyatakan, apabila terjadi pembatalan sepihak dari pembeli, uang tanda jadi dinyatakan hangus.
Namun kenyataannya saya tak pernah membatalkan pembelian karena sedang mencari dan melakukan proses KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Lalu saya meminta bantuan kepada pihak pengembang Summarecon untuk memberikan rekomendasi bank yang memiliki kerjasama. Namun pihak Summarecon tidak dapat membantu sama sekali dan hanya terus memaksa untuk membayar total uang muka 20% dari harga rumah dengan bunga yang berjalansetelah 2 minggu dari pembayaran tanda jadi.
Tertanggal 1 Februari 2008 saya mendapat surat dari Summarecon yang menyatakan bahwa pembelian rumah akan dibatalkan oleh Summarecon setelah 7 hari surat diterbitkan yakni 7 Februari 2008, apabila tidak ada konfirmasi. Namun surat tersebut baru saya dapatkan tanggal 8 Februari 2008. apakah ini disengaja oleh pihak Summarecon?
Kemudian saya menghubungi pihak Summarecon, diterima oleh saudari Nina, yang menyarankan untuk berbicara langsung kepada supervisor marketing (Bp. Andi), tetapi tidak pernah dapat dihubungi dengan berbagai alasan, seperti keluar kota, cuti dan rapat.
Ketika saya menanyakan apabila saya membayar total DP 20% beserta bunganya kepada pihak Summarecon dan ternyata proses KPR saya ditolak, apakah DP 20% bisa dikembalikan?
Ternyata jawaban dari pihak Summarecon melalui Saudari Nina menyatakan bahwa uang tersebut tetap akan hangus.
Apakah pelayanan dari pengembang ternama seperti Summarecon ternyata tidak memuaskan seperti ini?

Charles Pangestu
Jl Kesederhanaan RT 009 Rw 004 Jakarta
(Sumber: Kompas Rabu 26 Maret 2008)

AddThis Social Bookmark Button
Comments

Email this post


Arogansi Petugas Cathay Pacific  

Pada hari Sabtu 8 Maret 2008 saya diminta oleh saudara (Ibu Tjong Moifa) warga Hongkong yang tidak bisa berbahasa Indonesia, agar memesan tiket Jakarta-Hongkong untuk hari Minggu 9 Maret 2008. Saya mendapatkan nomor kantor Cathay Pacific di bandara Soekarno-Hatta. Namun sejak pagi hingga sore hari, begitu juga keesokan harinya (9/3) telpon tidak pernah dijawab.
Akhirnya saya memutuskan untuk langsung memesan di bandara Soekarno-Hatta untuk penerbangan pukul 14:50. Saya mencoba mendatangi kantor Cathay Pacific di bandara dan ternyata tutup.
Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya saya dan istri beserta saudara memutuskan masuk ke dalam bandara dan antre pada counter check-in. Setelah bersusah payah masuk dan antre cukup panjang, kami disuruh ke bagian layanan pelanggan yang berada di sebelah counter check-in. Dilayani seorang petugas, saya langsung menanyakan mengapa dari kemarin telepon tidak ada yang angkat?
Namun saya terkejut mendapatkan jawaban, "Kami semua disini pak, tidak dikantor. Bapak lihat sendiri disini tidak ada telepon". Saya tidak terlalu menghiraukan jawaban tersebut. Lalu saya berbicara dengan istri agar nanti komplain saja di Hongkong. Namun petugas tersebut kembali sambil berbicara, "Komplain saja Bu, kami malah senang."
Setelah beberapa menit untuk pemesanan tiket dibuka, kami diminta kembali mengantre di counter check-in yang antreannya sudah tambah panjang.
Apakah tidak bisa check-in dari counter ini saja? Tetapi sekali lagi petugas menjawab, "Disini tidak ada check-in. Kalau Bapak disini terus sampai besok pun tidak bisa masuk." Mendengar perkataan yang terus sinis seperti itu akhirnya saya menegur petugas tersebut bahwa perkataannya dari tadi tak enak didengar.
Saya juga menanyakan namanya dan dengan lantang serta arogan petugas tersebut berdiri dan menunjukkan tanda pengenal dengan nama "RS". Sungguh ironis cara layanan pelanggan Cathay Pacific melayani konsumen.

Roni Kunto
Permata Ayu IIC Lippo Karawaci, Tangerang
(Sumber: Kompas Rabu 26 Maret 2008)

AddThis Social Bookmark Button
Comments

Email this post


Debet Lewat EDC Permata  

Selasa, 25 Maret 2008

Pada 1 Maret 2008 saya belanja di Mitra 10 Percetakan Negara, Jakarta, sebesar Rp. 242,515.- Saat itu saya membayar dengan menggunakan kartu debet (Visa Electron) Bank Mega. Ketika kartu debet digesek pada electronic data capture (EDC) Bank Permata dan berhasil keluar struk belanja (no term: 01890167, trace no 001260, APPR Code: 043958 dengan nominal Rp. 242,515.-)
Namun alangkah terkejutnya saya karena setelah tiba dirumah saya melihat bahwa transaksi belanja menggunakan Visa Electron tersebut dan dilakukan dengan cara yang tidak jujur oleh Bank Permata. Transaksi dilakukan dengan menggunakan metode transfer antar bank, seperti melalui fasilitas jaringan ATM Bersama.
Sebagai nasabah saya merasa dirugikan karena seharusnya transaksi tersebut adalah merchant pament (Visa Electron) dan tidak dikenakan biaya. Yang terjadi, saya dikenakan biaya transfer sebesar Rp. 5,000.- dengan mendebet saldo pada rekening tabungan saya. Bukan masalah nominal yang hanya Rp. 5,000.- tetapi harus diungkapkan soal kejujuran Bank Permata. Kalau memang transaksi pembayaran pada EDC Bank Permata di Mitra 10 adalah transaksi transfer antarbank, agar bisa dijelaskan terlebih dahulu sebelum digesek supaya pelanggan tidak merasa tertipu.
Sepengetahuan saya transaksi transfer antarbank harus menggunakan PIN kartu ATM dan juga nasabah harus memasukkan daftar kode bank dan rekening tujuan transfer. Bukan dilakukan secara otomatis dan tanpa sepengetahuan dari pemilik rekening. Seharusnya Bank Permata lebih profesional dalam mencari keuntungan, bukan dengan melakukan hal yang tidak semestinya.
Pihak Mitra 10 agar lebih waspada dalam melakukan kerjasama dengan pihak bank menggunakan EDC supaya pelanggan tidak dirugikan. Saya berharap masyarakat agar lebih hati-hati menggesek kartu debet pada EDC Bank Permata.

Royke Sumual
Jalan Enim, Tanjung Priok, Jakarta
(Sumber: Kompas, Selasa 25 Maret 2008)

AddThis Social Bookmark Button
Comments

Email this post


Pesan SMS Menyedot Pulsa  

Saya pelanggan kartu seluler prabayar Mentari (nomor 0815871xxxx). Pada hari Jumat 7/3 pagi setelah mengaktifkan ponsel saya menerima pesan lewat SMS dari 0816122 yang isinya "Anda telah menerima 1 pesan, silakan menghubungi 0816122" Semula saya ingin mengabaikan pesan ini, tetapi karena ingin mengetahui berapa biaya untuk mendengarkan pesan, saya menghubungi nomor dimaksud, 0816122.

Sebeumnya saya mengecek pulsa dan tertulis Rp. 80,000.- Kemudian saya menghubungi 0816122 dan mesin penjawab menanyakan bahasa yang diinginkan, lalu menyampaikan bahwa telah diterima pesan dari 0813xxxxxxxx. Terdengar, tekan 1 untuk mendengarkan pesan, tekan 2 untuk mengulang pesan, dan tekan 3 untuk menghapus pesan. Saya tekan 1, tetapi tidak ada pesan yang terdengar, mungkin pengirim tidak mengisi pesan.
Kemudian saya coba yang ke dua juga tidak terdengar apa-apa. Lalu saya putuskan hubungan dan tercatat waktu bicara 55 detik. Kemudian saya periksa sisa pulsa tertera Rp. 69,000.- Rupanya untuk 55 detik dikenakan biaya Rp. 11,000.- artinya Rp. 200.- per detik.
Ditengah gencarnya operator seluler menawarkan biaya Rp. 1.- per detik, bahkan Rp. 1.- per menit, saya merasa terjebak dengan biaya Rp. 200 per detik sewaktu mencoba mendengarkan pesan lewat 0816122.
Mohon penjelasan dari Indosat sebagai operator Mentari tentang hal ini. Sebaiknya operator dalam mengirim SMS kepada penerima pesan agar menctumkan: "Anda akan dikenakan Rp. 200.- per detik untuk mendengarkan pesan ini." Dengan demikian pengguna jasa bisa memilih untuk mendengarkan atau mengabaikan pesan yang disampaikan.

Abdul Faridhan
Jalan Cilandak Bawah I No. 35, Jakarta
(Sumber: Kompas, Selasa 25 Maret 2008)

AddThis Social Bookmark Button
Comments

Email this post


Mobil Isuzu Panther Berkarat  

Pada January 2007 saya membeli mobil Isuzu Panther (LV 2.5 Turbo) di Buana Perkasa Motor, dealer resmi Isuzu Panther di jalan Jemur Sari, Surabaya.
Sejak pertama kali mobil itu dibeli banyak permasalahan yang timbul selain dari perbaikan rem oleh pihak Astra karena ada cacat produk. Namun yang paling disesalkan adalah pada bulan Oktober 2007 saya menemukan ada karat dibeberapa tempat di bodi mobil dibagian dalam pintu sampingdan belakang, di atap, dekat engsel, di sela-sela pertemuan antar plat.
Sejak itu sudah dilakukan beberapa kali pengecatan oleh pihak Buana Perkasa Motor dan Astra Waru, Surabaya, tetapi pengecatan tampak dilakukan tidak rapi, bahkan beberapa tempat tampak dicat dengan kuas. Sementara pengecatan dengan spray pun tampak tidak sebagus aslinya, terlihat tidak mengkilat.
Setelah dicat pun sampai sekarang masih ditemukan karat. Untuk karat paling parah adalah yang ada dibagian atas pintu, yang posisinya tertutup karet lis pintu. Bagimana bodi di bagian dalam kalau diluar sudah berkarat? Padahal mobil belum ada 1 tahun.
Saya mendapatkan keterangan dari teknisi Astra bahwa karat tersebut timbul akibat air yang digunakan untuk mencuci mobil. Penjelasan yang menunjukkan betapa jeleknya kualitas pengecatan Panther. Padahal saya mempunyai mobil merek lain tahun 2001 sampai sekarang bodinya tidak mengalami karatan akibat pencucian.
Sewaktu saya mencoba melihat ke dealer resmi mobil Panther tipe LV baru yang sama seperti milik saya, di bodi bagian belakang waktu pintu dibuka ternyata saya temukan sudah ada karat dibeberapa tempat persis seperti di mobil saya, bahkan saya sempat foto untuk dokumentasi.
Menyesal membeli mobil Isuzu Panther!

Freddy Susanto
Jalan Rambutan Tengah II/D 251 Waru, Sidorajo
(Sumber: Kompas, Selasa 25 Maret 2008)

AddThis Social Bookmark Button
Comments

Email this post


Pengalaman Buruk di Bioskop XXI  

Pada hari Sabtu 23 Februari 2008, saya mengajak anak-anak menonton film Water Horse di XXI Plaza Senayan Jakarta pukul 13:00. Namun ada beberapa kekecewaan yang dialami dari pengalaman menonton di XXI pada hari itu. Malam sebelumnya saya sudah merencanakan acara tersebut dan mengecek ke website 21 untuk waktu penayangan. Saya khusus memilih XXI Plaza Senayan karena dari semua jadual film Water Horse hanya di Plaza Senayan yang ada jam tayang pukul 13:00 hari Sabtu.

Sesampainya di XXI Plaza Senayan ternyata penayangan sudah berubah pukul 12:30 dan anggota staf yang ditanya disana memberi tahu bahwa jadual jam tayang berubah di website setiap hari, sedangkan di website tidak disebutkan ketentuan ini.

Akibatnya saya dan keluarga harus menunggu lagi untuk pertunjukan berikutnya. Seharusnya sudah bisa diprediksi sebelumnya jam tayang untuk akhir pekan itu dan terkesan manajemen bioskop itu seperti plin-plan.

Sebelum penayangan film tersebut saya sangat kaget ketika ada iklan 21 tentang SMS 2121 menggunakan cameo tali pocong perawan. Seharusnya pihak 21 sadar bahwa iklan seperti itu tidak layak diputar di film yang ditargetkan untuk anak-anak dan keluarga. Jelas efeknya kepada penonton yang kebanyakan anak-anak berusia 5 tahun - 12 tahun yang kaget dan menjerit ketika adegan pocong muncul di layar tersebut. Ini tidak baik untuk efek psikologis anak-anak.

Sebagai bioskop yang sudah menjalankan bisnis sedemikian lama, seharusnya grup 21 mempunyai pengetahuan untuk lebih hati-hati menayangkan materi. Apalagi yang sifatnya promosi untuk pihak 21 sendiri di jam tayang yang akan dipertontonkan kepada anak-anak dibawah umur.

Dina Kartikasari
Kalibata Utara Rt009 Rw 007, Pancoran, Jakarta
(Sumber: Kompas Selasa, 25 Maret 2008)

AddThis Social Bookmark Button
Comments

Email this post


Tak Ditagih Tiba-Tiba Kena Denda  

Rabu, 19 Maret 2008

Saya kredit sepeda motor L 5114 UO melalui PT Summit Oto Finance. Bulan ini merupakan angsuran terakhir. Namun hingga 9 Maret 2008 pihak bagian penagihan tidak datang ke rumah saya. Akhirnya pada tanggal 12 Maret suami saya mendatangi kantor PT Summit Oto Finance untuk membayar cicilan terakhir sekaligus mengambil BPKB.
Betapa terkejutnya saya ketik suami mengatakan bahwa kami dikenakan denda Rp. 80,000.- Padahal keterlambatan pembayaran hanya 2 hari, itupun karena kesalahan petugas penagihan.
Suami saya sempat kembali ke PT. Summit Oto Finance untk komplain denda tersebut. Namun dengan enteng petugas disana mengatakan bahwa uang denda yang dibayar suami saya sudah terlanjur masuk data komputer.
Dizaman seperti ini uang sebesar itu sangat berarti bagi keluarga kami yang hanya karyawan biasa.
Mohon penyelesaian.

Dina Mariana 081330558052
(Sumber: Jawa Pos, Rabu 19 Maret 2008)

AddThis Social Bookmark Button
Comments

Email this post


Tertipu SMS Bicara Gratis  

Pada tanggal 5 Maret 2008 sekitar pukul 20:43 saya mendapat SMS dan Telkomsel. Isi SMS tersebut adalah, "Pelanggan Krtu Halo Yth, pada hari Jumat, 7 Maret 2008, Anda mendapat gratis delapan menit percakapan ke sesama pelanggan Telkomsel dimanapun . Nantikan kejutan berikutnya."
Menanggapi SMS tersebut, saya melakukan percakapan pada hari yang dimaksud ke nomor kartu Halo. Tapi, saya sangat kecewa ketika mengetahui bahwa pulsa saya terpotong untuk biaya panggilan keluar sebesar Rp. 4,225.- Padahal panggilan yang saya lakukan hanya 00:06:18
Ringkasnya, saya tertarik SMS yang menjanjikan percakapan gratis selama delapan menit, saya melakukan percakapan sekitar 6 menit 18 detik dan pulsa saya tetap terpotong. Apakah ini hanya akal-akalan dari Telkomsel untuk ngerjain pelanggannya? Mohon Penjelasan!

Indrati 08121508884
(Sumber: Jawa Pos, Rabu 19 Maret 2008)

AddThis Social Bookmark Button
Comments

Email this post


Program Konversi Tak Tepat Sasaran  

Distribusi bantuan kompor dan tabung gas yang dilakukan pihak Pertamina perlu ditinjau ulang. Seperti yang terjadi di Perumahan Citra Fajar Golf (CFG), kelurahan Gebang, Sidoarjo, program konversi penggunaan gas dari minyak tanah yang sebenarnya ditujukan untuk masyarakat yang masih menggunakan kompor minyak tanah malah salah sasaran. Pihak Pertamina tidak melakukan pengawasan mulai dari tahap survei hingga pendistribusian.
Bahkan di kawasan perumahan saya tidak dilakukan survei sama sekali. Akibatnya semua rumah tangga, asal mengisi formulir permohonan dan melampirkan copy KTP/KSK, disetujui untuk mendapatkan kompor dan tabung gas gratis tanpa melihat apakah pemohon sudah memiliki atau menggunakan kompor dan tabung gas atau belum.
Sementara bagi yang sebenarnya berhak, yaitu warga yang masih menggunakan kompor minyak tanah, malah tidak disetujui dengan alasan belum memiliki KSK atau KTP. Dimana rasa keadilan Pertamina?
Cerita yang sama sebenarnya sering saya dengar dari beberapa kawasan perumahan di Sidoarjo. Mereka menerima bantuan tabung dan kompor gas meski telah meliki sebelumnya.

Moch. Sebechi Nurcahyo
Warga Citra Fajar Golf, Gebang, Sidoarjo
(Sumber: Jawa Pos, Rabu 19 Maret 2008)

AddThis Social Bookmark Button
Comments

Email this post


Diskon Tapi Bayar Penuh  

Saya salah seorang pelanggan Carrefour ITC Surabaya, sebuah pusat perbelanjaan bertaraf dunia yang senantiasa mengdepankan kenyamanan, kepercayaan, dan kualitas produk.
Akan tetapi saya sangat kecewa terhadap produk promosi yang dilakukan, yang menurut saya terkesan mengandung unsur penipuan.
Setidaknya saya mengalami hal seperti itu sebanyak dua kali.. Pertama, ketika beberapa waktu lalu saya membeli T-shirt dengan potongan harga 50%. Setelah membayar ternyata struk di kasir tidak mendapat diskon, alias tetap membayar penuh. Kejadian kedua saya alami pada tanggal 15 Maret 2008, ketika saya membeli empat kotak susu formula @400 gram dengan harga promosi Rp. 37,920.- Ternyata di struk tertulis harga normal.
Sehari kemudian saya menanyakan masalah itu ke CS dengan membawa bukti-bukti lengkap. Ternyata CS dan SPG terkesan saling lempar tangung jawab dan melontarkan argumentasi yang memungkiri hal tersebut. Satu pertanyaan yang masih mengganjal di benak saya , apakah hal ini merupakan bagian dari kebijakan manajemen Carefour ITC Surabaya atau ula segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab? Semoga kejadian serupa tidak terjadi pada pelanggan lain.

Imaad Diyniyati 081330367482

(Sumber: Jawa Pos, Rabu, 19 Maret 2008)

AddThis Social Bookmark Button
Comments

Email this post


Gonjang Ganjing Tanah Blok Cepu  

Jumat, 14 Maret 2008

Belakangan berita tentang pembebasan tanah untuk keperluan Blok Cepu di Kabupaten Bojonegoro semakin tidak karuan. Terakhir kali ketua DPRD Bojonegoro, Taman Syaifuddin, mengatakan agar pembebasannya diberikan kepada Pemerintah Kabupaen Bojonegoro dan Pertamina.

Sebagai rakyat saya menjadi bingung, bukankah dulu Pemkab Bojonegoro sudah membentuk Tim 9 yang diketuai wakil bupati era Bupati Santoso, M Tahlah (yang dibubarkan lalu dibentuk tim yang tidak jelas kerjanya)? Lalu bukankah Pertamina satu tim di Mobil Cepu Limited (MCL) dengan Exxon Mobil dalam mengembangkan lahan tersebut?
Seharusnya baik Taman Syaifuddin maupun Kepala EP Cepu, Hestu Bagyo, langsung berperan aktif, bukan berbicara di media yang makin mengkukuhkan kemenangan calo tanah.
Persoalan tanah tak kunjung selesai karena baik penduduk dan pejabat di Bojonegoro melihat bahwa Exxon Mobil adalah perusahaan besar yang cukup punya banyak modal sehingga meninggikan harga tanah yang kini dikuasai calo.
Penduduk justru tak punya hak karena terlanjur menjual murah pada calo-calo tersebut. Padahal seberapapun harga tanah yang ditawarkan oleh penduduk (atau calo) disana sejatinya bukan Exxon Mobil atau MCL yang akan membayar, tetapi Pemerintah Indonesia.
Biaya yang dikeluarkan untuk pembelian tanah itu nantinya akan dipotongkan dari hasil minyak atau istilahnya cost recovery. Jadi bukan Exxon Mobil yang mengeluarkan duit, tetapi Pemerintah Indonesia juga.
Karena itulah saya makin bingung ketika peran pemerintah tidak tampak dalam pembebasan tanah tersebut, padahal pemerintah punya Perpres Nomor 36, Tahun 2005. Karena itu jika pembebasan tanah itu tidak selesai, target produksi tahun 2006 juga akan lepas. Dan lagi-lagi kita susah karena harga minyak makin tinggi.

Irfan Effendi
Pengamat Ekonomi
effendiirfan@yahoo.com
(Sumber: Kompas Jumat 14 Maret 2008)

AddThis Social Bookmark Button
Comments

Email this post


Kecewa Personal Loan Lippo Bank  

Awal Desember 2007 saya menjadi LC(marketing) di Personal Loan Lippo Bank (PLLB). Saat interview maupun training (oleh Ibu Kurniasih), dijelaskan bahwa pada bulan pertama (Desember) akan diberikan insentif sebesar Rp. 400 ribu, syaratnya saya harus mengumpulkan minimal enam aplikasi. Insentif itu bakal dicairkan pada 25 Januari 2008.
Pada 25 Januari, saya menanyakan insentif yang belum dicairkan itu karena saya telah mengumpulkan enam aplikasi. Jawaban yang saya terima sungguh tidak sesuai dengan janji awal. Menurut mereka insentif saya tidak bisa keluar atau masih dideviasikan ke pusat. Mereka juga menjelaskan, untuk mendapatkan insentif, minimal saya harus mengumpulkan delapan aplikasi.
Kalau memang ada perubahan, mengapa tidak dikonfirmasikan sejak awal? Saya sudah memenuhi kewajiban saya sesuai komitmen awal. Sekarang mana hak saya?
Andri Winarko, (031)-72144269
(Sumber: Jawapos Jumat 14 Maret 2008)

AddThis Social Bookmark Button
Comments

Email this post


Contact me, martant21